(Konsepsi Mangkoenagoro I)

Pada waktu dunia barat yang dianggap maju dalam pemikiaran kesetaraan jender baru dimulai pada abad 19, ternyata bangsa Indonesia telah memiliki Pangeran Sambernyawa yang tidak hanya bercita-cita tetapi telah mampu mengaplikasikan konsep kesederajadan pria dan wanita satu abad sebelumnya. Dengan melibatkan wanita dalam proses perjuangan bersenjata melawan kumpeni (1741-1756) dan setelah berdirinya Praja Mangkunagaran (1757 M).

Di Prancis cita-cita terwujudnya kesetaraan jender baru dimulai tahun 1887 dengan berdirinya organisasi wanita pertama dengan nama La Societe du droit des Femmes. Pemikiran tentang emansipasi wanita di Inggris baru dimulai tahun 1872 yang kemudian secara organisatoris, terbentuk Womesn’s Social and Political Union pada tahun 1903.

Peran apa saja yang diberikan oleh Mangkoenagoro I (MN I) yang menunjukkan ketajaman kerangka piker beliau dalam memandang perlunya kebersamaan pria dan wanita adalah sebagai berikut.

1.      Carik Estri

Memberikan peran para wanita sebagai carik estri atau yang sekarang kita kenal dengan sebutan sekretaris, menunjukkan bahwa pendidikan baca tulis mendapatkan perhatian penting semasa kepemimpinan MN I untuk mengoptimalkan wanita sebagai sumber daya insani yang pada umumnya bercirikan lebih tertib, rapid an cermat.

Karya monumental dari para carik wanita ini antara lain adalah Serat Babad Tutur, yang merupakan dag boek dari MN I yang tersusun secara indah dalam bait-bait tembang yang adiluhung.

2.      Prajurit Estri

Reformasi yang dilakukan berkaitan dengan status wanita adalah memajukan mereka lewat pendidikan. MN I memang tidak mendirikan kelembagaan pendidikan secara khusus, namun aktifitas yang dilakukan terlihat bahwa proses pendidikan dilakukan sendiri oleh MN I, termasuk pendidikan kemiliteran bagi prajurit estri.

Korps prajurit estri Mangkunegaran buan sekedar pengawal istana (royal guard), melainkan suatu combat corps (Pasukan tempur) yang memang dibentuk untuk mampu maju di medan perang. Bahkan prajurit estri Mangkunagaran disamping dididik dibidang kemiliteran, juga diberikan pengetahuan social , politik, pertanian dan kesastraan serta tetap memiliki ketrampilan kewanitaan. Jadi boleh dikatakan sebagai korps serba guna.

Kehebatan dari prajurit estri ini antara lain dapat dilihat pada Babad Tutur, Sinom, 6:107 b/204 sebagai berikut.

Cingak eram kang mulat,

Kebat acukat tarampil,

Gawok katemben yang mulat,

Miwah upruk wong Kumpeni,

Gedheg-gedheg ningali,

Estri lir prajurit kakung,

Tanah Jawi tan ana,

Kang kadi Pangran Dipati,

Sasampune sadaya sampun umangkat.

Yang artinya,

Mereka yang menyaksikan ulah prajurit estri

Pada bengong dan heran,

Geraknya cepat, cekatan dan handal,

Baru pertama kali melihatnya,

Demikian pula uprup dan orang-orang Kumpeni,

Sambil menggeleng-gel;engkan kepala berucap,

Tanah Jawa tak ada yang menyamainya,

Prajurit estri milik Pangeran Dipati in I,

Walaupun prajurit lelaki masih kalah juga,

Setelah semua ketangkasan diperagakan.

Gubernur van Greeve menuliskan dalam buku hariannya tentang kehebatan prajurit estri yang dia gelari woman dragons. Kehebatan prajurit ini dimana mereka secara berurutan menembakkan salvo with such order and accuracy, dan kemudian melepaskan lagi salvo tiga kali dengan senjata tangan mereka yang lain with the ut most accuracy yang diikuti dengan tembakan artileri.

Prajurit estri dibina sedemikian rupa sehingga mereka merupakan suatu kekuatan lascar tersendiri bagi rakyat Mangkunagaran yang dikagumi dan disegani baik oleh kawan maupun lawan. (Bersambung….)

Sumber : Mbangun Tuwuh, Tahun 19 Nomor 150, KRTH Wicitro Kusumo.