(Konsepsi Mangkoenagoro I) – Bagian Kedua

Disamping upaya kesamaan tanggung jawab dan penaikan martabat serta harkat wanita di mata masyarakat Jawa, disisi lain juga membuktikan bahwa kaum wanita apabila dibina secara intens ternyat amenyimpan kekuatan yang tidak kalah dengan pria.

    3. Seniwati

Peran wanita sebagai seniwati tentunya tidak diragukan lai. Bahkan mulai dari masa adon yudo selama 16 tahun melawan kumpeni Belanda, wanita mampu sebagai seniman sesindhenan dan penari tayub. Senandung tembang yang merdu, tarian lemah gemulai dan bergairah memberikan nuansa bagi para prajurit untuk bersemangat memenangkan pertempuran.

Dalam masa kepemimpinan Mangkoenagoro I (MN I) telah diciptakan karya besar yang menjadi master piece Praja Mangkunagaran, yaitu tarian Badhaya Anglirmendhung yang merupakan monument lintasan perjuangan yang gagah berani. Tarian ini justru dipercayakan penuh kepada kaum wanita, baik penarinya yang berjumlah 7 orang, niyaga maupun sesindhennya. Sedang karya besar yang lain yaitu Badhaya Diradameta dan Badhaya Sukapratama diciptakan untuk seniman pria. Apabila Badhaya Anglirmendhung terinspirasi dari perang besaar di Ponorogo, Diradameta dan Sukapratama masing-masing mencerminkan perang Sitokepyak Rembang dan keberhasilan menyerang benteng Belanda di Yogyakarta.

Berbagai kesempatan dari peran lain juga diberikan kepada wanita Mngkunagaran. Mulai dari tugas sebagai intelijen di bawah koordinasi Joyopanamur (Punggawa Baku MN I), tugas penghubung membantu Joyoleyangan, serta sebagai pengawal dari istri dan keluarga Pangeran Sambernyawa dalam medan perang. Wanita juga memiliki peranan strategis sebagai motivator dalam peang. Kisah Mas Ajeng Wiyah yang mampu mengobarkan semangat barisan Sambernyawa menuju kemenangan dalam pertempuran di hutan Sitokepyak Rembang, adalah salah satu bukti yang nyata. Pangeran Sambernyawa berhasil menewaskan Kapten Van der Pol Komandan Detasemen Kumpeni.

Dimasa Praja Mangkunagaran telah berdiri, disamping tugas di bidang logistic juga berperan membuat pakaian seragam para prajurit Mangkunagaran yang ribuan jumlahnya. Profesi ini jelas memerlukan pendidikan ketrampilan yang memadai yang diberkan kepada kaum wanita, sebagai bagian dari kebijakan MN I.

Wanita juga mendapat peran di bidang pertanian, mulai dari saat tanam padi, matun, sampai dengan panen. Kebiasaan ini tetap terpelihara sebagai tradisi sampai sekarang. Satu hal penting yang patut dicatat, bahwa pada saat panen raya MN I mengajak permaisuri, putra, sentana dan prajurit estri ikut turun ke sawah. Aktifitas ini untuk meyakinkan kepada rakyat, bahwa pekerjaan di bidang pertanian bukanlah profesi yang rendah (asor), sekaligus memberikan motivasi guna meningkatkan produksi pangan.

Wawasan kesetaraan jender atau kesederajadan antara pria dan wanita benar-benar tertanam sebagai filosofi MN I dan tidak hanya berhenti sebagai konsep atau cita-cita, tetapi benar-benar dilaksanakan dalam kehidupan pemerintahan Mangkunagaran.

Konsepsi MN I dalam kesederajadan yang berkaitan dengan kedudukan wanita Mangkunagaran tidak secara mutlak sama dengan kaum pria, melainkan didasarkan kepada potensi dan peran mereka sebagai fitrahnya. MN I yang bernama kecil RM Said sebagai muslim sejati mengembangkan dimensi kebersamaan dalam kehidupan keagamaan. MN I memberikan hak dan kesempatan yang sama kepada wanita dan pria, kecuali perbedaan dalam berbagai hal yang memang telah digariskan oleh agama seperti halnya wanita tidak boleh menjadi imam jika diantanra makmumnya ada laki-laki. Pelaksanaan shalat di masjid, termasuk tarawih dan pelaksanaan dzikir serta pembacaan Al Qur’an sama-sama dilakukan baik pria maupun wanita.

Dari uraian di atas dapat digambarkan bahwa keberadaan wanita pada abad 18 khususnya di lingkungan Puro Mangkunagaran tidak sepenuhnya sebagaimana yang terungkap dalam sejarah kebudayaan Jawa, seperti dipingit, terbelakang, buta huruf, sebagai konco wingking, inferior, dapat diperlakukan seenaknya dan tidak mempunyai hak menentukan nasibnya. KGPAA Mangkoenagoro I telah meletakkan dasar-dasar reformasi memajukan status wanita, melalui proses pendidikan.

Perjuangan emansipasi wanita memang merupakan perjuangan yang panjang dan berkelanjutan yang disesuaikan dengan kemajuan peradaban dunia. Cita-cita RA Kartini pada abad 20 patut kita brikan apresiasi. Pemikiran, kata hati beliau sebagaimana tertuang dalam kumpulan surat yang terangkum dalam bukunya Habis Gelap Terbitlah Terang (Door Duistemis tot Lieht) adalah kelanjutan dari reformasi yang telah diletakkan dasarnya oleh MN I satu setengan abad sebelumnya.

Sumber : Mbangun Tuwuh, Tahun 19 Nomor 150, KRTH Wicitro Kusumo.