KARANGANYAR – Candi Cetho yang ada di Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi kemarin dibanjiri ribuan umat Hindu. Berpakaian khas tradisional Bali, pengunjung berdatangan dari berbagai wilayah di penjuru nusantara. Upacara Pancawali Krama yang digelar pertama kali dimulai pukul 10.00.

Sejak pagi, umat Hindu sudah menapaki puluhan tangga di Candi Cetho, sambil membawa sesaji yang dipersembahkan Sang Hyang Widi Wasa. Selanjutnya, sesaji tersebut dijadikan satu di teras bagian atas candi yang digunakan untuk pusat acara.

Upacara Pancawali Karma dipimpin oleh seorang padande atau pendeta yang berpakaian putih. Sambil membakar dupa, pandende itu melafalkan doa. “Upacara Pancawali Krama merupakan upacara >pancaruan<, untuk menyingkirkan kotoran-kotoran dari jagat nusantara. Selain itu, merupakan sarana pemujaan terhadap Sang Hyang Widi Wasa sebagai pencipta alam semesta," papar Ketua Panitia Upacara Pancawali Krama Sunarto.

Dia menambahkan, upacara itu juga memohon agar Tuhan menjauhkan bangsa Indonesia dari bencana. Upacara di Candi Cetho adalah puncak dari prosesi yang telah dilakukan sebelumnya. Yakni, di sungai Bengawan Solo, Pantai Parangkusumo Jogja, Pura Banguntapan Solo, dan Candi Cetho. “Upacara itu juga digelar setelah ada >wisik< atau petunjuk yang didapatkan Mangku Alit --seorang tokoh spiritual dari Bali," tambahnya.

Rencananya, Pancawali Krama akan digelar kembali enam bulan mendatang, dalam skala yang lebih kecil. Dalam kesempatan itu turut hadir Bupati Karanganyar Hj Rina Iriani. Dalam upacara itu, tidak sembarang orang bisa masuk ke area upacara.

Wisatawan domestik maupun mancanegara tidak diperbolehkan masuk area candi. Mereka hanya bisa melihat dari balik pagar kawat. Tak heran, puluhan wisatawan yang hadir di sana kecewa, karena tidak bisa ikut menyaksikan momentum ritual keagamaan itu.

Sumber : Radar Solo (18 Juli 2007)