Budaya Jawa

13
Jul

Tata Upacara Mantu

Perhelatan Perkawinan Menurut Adat Jawa

1. Pasang Tarup
Pada umumnya bangunan rumah yang tidak besar (tidak luas), tidak dapat menampung jumlah tamu yang banyak, oleh karena itu dibuat bangunan tambahan. Agar suasana perjamuan tampak indah, serasi dan semarak, bangunan tambahan tersebut dihias dengan gaba-gaba, berupa janur (daun kelapa yang masih muda), pelisir pare-anom (hijau kuning) atau gula-kelapa (merah putih) dan sebagainya. Pemasangan bangunan tambahan, gaba-gaba beserta ragam hiasnya tersebut disebut tarup.

Pasang tarup merupakan awal kegiatan peralatan mantu. Berbarengan dengan tarup tersebut disertakan upacara selamatan (wilujengan) yang berisi doa kepada Tuhan Yang Maha Esa, Rosulullah dan para leluhur, agar perhelatan perkawinan dapat berjalan dengan lancar dan selamat sehingga tercapai apa yang diharapkan.

Hal yang disiapkan adalah selamatan rasulan, nasi asahan, nasi golong, ketan, kolak dan apem.

2. Upacara Buangan (Bucalan, Jawa)
Pengadaan sesaji untuk roh halus (yang baik maupun yang tidak baik) agar menjaga segala penjuru bumi, sumber air, kekayuan besar dan lain sebagainya, sehingga tidak ada yang mengganggu bahkan diharapkan membantu. Macam buangannya adalah pecok bakal dan gecok mentah.

Read the rest of this entry »

09
Jul

Sunan Kalijaga Dalam Mengawinkan Budaya Jawa Dan Islam

Penciptaan Tembang

Salah satu kreatifitas Sunan Kalijaga dalam syiar Islam adalah dedngan menciptakan tembang-tembang. Salah satu tembang yang sangat terkenal hingga sekarang adalah Ilir-ilir. Tafsir tentang ilir-ilir lebih dari satu, tergantung sudut pandang masing-masing. Ilir-ilir terdiri dari dua bagian, yang pertama bagian penyadaran, sedangkan yang kedua adalah bagian peringatan.

Bagian pertama berbunyi :

Ilir-ilir
Tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo
Tak senggoh penganten anyar

Read the rest of this entry »

09
Jun

Konsepsi Menuju Kesetaraan Jender Melalui Peran Dan Proses Pendidikan

(Konsepsi Mangkoenagoro I) – Bagian Kedua

Disamping upaya kesamaan tanggung jawab dan penaikan martabat serta harkat wanita di mata masyarakat Jawa, disisi lain juga membuktikan bahwa kaum wanita apabila dibina secara intens ternyat amenyimpan kekuatan yang tidak kalah dengan pria.

    3. Seniwati

Peran wanita sebagai seniwati tentunya tidak diragukan lai. Bahkan mulai dari masa adon yudo selama 16 tahun melawan kumpeni Belanda, wanita mampu sebagai seniman sesindhenan dan penari tayub. Senandung tembang yang merdu, tarian lemah gemulai dan bergairah memberikan nuansa bagi para prajurit untuk bersemangat memenangkan pertempuran.

Dalam masa kepemimpinan Mangkoenagoro I (MN I) telah diciptakan karya besar yang menjadi master piece Praja Mangkunagaran, yaitu tarian Badhaya Anglirmendhung yang merupakan monument lintasan perjuangan yang gagah berani. Tarian ini justru dipercayakan penuh kepada kaum wanita, baik penarinya yang berjumlah 7 orang, niyaga maupun sesindhennya. Sedang karya besar yang lain yaitu Badhaya Diradameta dan Badhaya Sukapratama diciptakan untuk seniman pria. Apabila Badhaya Anglirmendhung terinspirasi dari perang besaar di Ponorogo, Diradameta dan Sukapratama masing-masing mencerminkan perang Sitokepyak Rembang dan keberhasilan menyerang benteng Belanda di Yogyakarta. Read the rest of this entry »

22
May

Konsepsi Menuju Kesetaraan Jender Melalui Peran Dan Proses Pendidikan

(Konsepsi Mangkoenagoro I)

Pada waktu dunia barat yang dianggap maju dalam pemikiaran kesetaraan jender baru dimulai pada abad 19, ternyata bangsa Indonesia telah memiliki Pangeran Sambernyawa yang tidak hanya bercita-cita tetapi telah mampu mengaplikasikan konsep kesederajadan pria dan wanita satu abad sebelumnya. Dengan melibatkan wanita dalam proses perjuangan bersenjata melawan kumpeni (1741-1756) dan setelah berdirinya Praja Mangkunagaran (1757 M). Read the rest of this entry »

19
May

Sejarah Perdirinya Puro Mangkunegaran

Memperingati 250 tahun berdirinya Puro Mangkunegaran tentunya tidak lepas dari perjuangan RM Said/Pangeran Sambernyawa. Beliau adalah Pendiri Praja Mangkunegaran sekaligus Pahlawan Nasional Bangsa Indonesia.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai jasa pahlawannya. Pangeran Sambernyawa berjuang di jalan Allah melawan penjajah Belanda selama 16 tahun. Dasar utama perjuangan beliau adalah mengenyahkan Belanda dari bumi Mataram dan usaha menyatukan Mataran dalam satu pemerintahan. Read the rest of this entry »

09
Feb

Perumpamaan Dalam Busana Kejawen

Busana adat Jawa biasa disebut sebagai busana kejawen yang mempunyai perlambang atau perumpamaan terutama bagi orang Jawa yang biasa mengenakannya. Busana kejawen penuh dengan piwulang sinandhi, kaya akan ajaran tersirat yang terkait dengan filosofi Jawa.

Ajaran dalam busana kejawen ini merupakan ajaran untuk melakukan segala sesuatu di dunia ini secara harmoni, yang berkaitan dengan aktivitasnya sehari-hari, baik dalam hubungannya dengan sesame manusia, dengan diri sendiri, maupun dengan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Read the rest of this entry »

09
Feb

Istana Mangkunegaran

Puro Mangkunegaran dibangun pada tahun 1757, dua tahun setelah dilaksanakan Perundingan Giyanti yang isinya membagi pemerintahan Jawa menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Kerajaan Surakarta terpisah setelah Raden Mas Said memberontak dan atas dukungan sunan mendirikan kerajaan sendiri. Raden Mas Said memakai gelar Mangkoenagoro I dan membangun wilayah kekuasaannya di sebelah barat tepian sungai pepe di pusat kota yang sekarang bernama Solo.

Puro Mangkunegaran yang sebetulnya awalnya lebih tepat disebut tempat kediaman pangeran daripada istana, dibangun mengikuti model kraton tapi bentuknya lebih kecil. Bangunan ini memiliki ciri arsitekturyang sama dengan kraton, yaitu pada pamedan, pendopo, pringgitan, dalem, dan kaputran, yang seluruhnya dikelilingi oleh tembok yang kokoh.

Read the rest of this entry »