<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>karanganyar.com &#187; Budaya Jawa</title>
	<atom:link href="http://www.karanganyar.com/category/budaya-jawa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.karanganyar.com</link>
	<description>Informasi seputar Kabupaten Karanganyar</description>
	<lastBuildDate>Wed, 09 Jan 2008 02:55:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Tata Upacara Mantu</title>
		<link>http://www.karanganyar.com/2007/07/13/tata-upacara-mantu/</link>
		<comments>http://www.karanganyar.com/2007/07/13/tata-upacara-mantu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jul 2007 02:24:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>marshanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya Jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.karanganyar.com/2007/07/13/tata-upacara-mantu/</guid>
		<description><![CDATA[Perhelatan Perkawinan Menurut Adat Jawa 1. Pasang Tarup Pada umumnya bangunan rumah yang tidak besar (tidak luas), tidak dapat menampung jumlah tamu yang banyak, oleh karena itu dibuat bangunan tambahan. Agar suasana perjamuan tampak indah, serasi dan semarak, bangunan tambahan tersebut dihias dengan gaba-gaba, berupa janur (daun kelapa yang masih muda), pelisir pare-anom (hijau kuning) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Perhelatan Perkawinan Menurut Adat Jawa</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">1.      </span><!--[endif]--><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Pasang Tarup<br />
Pada umumnya bangunan rumah yang tidak besar (tidak luas), tidak dapat menampung jumlah tamu yang banyak, oleh karena itu dibuat bangunan tambahan. Agar suasana perjamuan tampak indah, serasi dan semarak, bangunan tambahan tersebut dihias dengan <em>gaba-gaba</em>, berupa <em>janur</em> (daun kelapa yang masih muda), pelisir <em>pare-anom</em> (hijau kuning) atau gula-kelapa (merah putih) dan sebagainya. Pemasangan bangunan tambahan, <em>gaba-gaba</em> beserta ragam hiasnya tersebut disebut <em>tarup</em>. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Pasang <em>tarup</em> merupakan awal kegiatan peralatan mantu. Berbarengan dengan tarup tersebut disertakan upacara selamatan (<em>wilujengan</em>) yang berisi doa kepada Tuhan Yang Maha Esa,  Rosulullah dan para leluhur, agar perhelatan perkawinan dapat berjalan dengan lancar dan selamat sehingga tercapai apa yang diharapkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Hal yang disiapkan adalah <em>selamatan rasulan, nasi asahan, nasi golong, ketan, kolak</em> dan <em>apem</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">2.      </span><!--[endif]--><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Upacara Buangan (<em>Bucalan</em>, Jawa)<br />
Pengadaan sesaji untuk roh halus (yang baik maupun yang tidak baik) agar menjaga segala penjuru bumi, sumber air, kekayuan besar dan lain sebagainya, sehingga tidak ada yang mengganggu bahkan diharapkan membantu. Macam buangannya adalah <em>pecok bakal</em> dan <em>gecok mentah</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><span id="more-19"></span>3.      </span><!--[endif]--><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Menyiagakan Beras Di Pedaringan<br />
Bapak dan ibu yang akan mengadakan mantu agar menyiagakan beras menyiapkan diri dengan berpakaian Jawa. Ibu mengenakan kain <em>tuluh watu</em> dan kebaya <em>lurik</em>. Ibu menggendong bakul (<em>tenggok</em>) berisi beras, sedangkan bapak mendampinginya. Keduanya masuk ke dalam rumah terus menuju ke <em>pedaringan</em> (tempat menyimpan beras keluarga) untuk memasukkan beras (<em>nyinggahaken wos</em> = memasukkan atau menyiagakan beras yang akan digunakan untuk keperluan mantu).</span></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">4.      </span><!--[endif]--><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Upacara Tanak Nasi<br />
Ibu dengan dibantu bapak, mengambil beras dari pedaringan terus dibawa ke sumur. Bapak mengambilkan air. Ibu mencuci beras (<em>mususi</em>). Beras dibawa ke dapur. Bapak menyalakan api dapur. Ibu memasukkan beras ke dalam <em>kukusan</em> (kerucut nasi). Itulah upacara menanak nasi. Setelah itu kegiatan menanak nasi dilanjutkan orang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">5.      </span><!--[endif]--><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Pasang Tuwuhan<br />
Pemasangan <em>tuwuhan</em> (tumbuhan) mengandung maksud agar kedua mempelai di kemudian hari dapat dikaruniai <em>tuwuh</em> (keturunan) yang baik, yakni manusia utama.</span></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">a.      </span><!--[endif]--><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Tempat Pemasangan<br />
Tuwuhan dipasang di muka rumah dan di pintu kamar mandi tempat bermandi pengantin (<em>siraman</em>).</span></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">b.      </span><!--[endif]--><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Jenis Tetumbuhan<br />
Diambilkan dari tetumbuhan yang dipandang mempunyai nilai atau arti yang baik, antara lain :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">-         </span><!--[endif]--><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Setandan pisang suluhan</span></em><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">,  lengkap dedngan batangnya (<em>suluh</em>=matang di batang, tidak diperam). Dipasang di muka pintu rumah tempat menyelenggarakan perhelatan. Hal ini bermaksud, mudah-mudahan bagi yang punya kerja dapat memiliki hati yang terang dan roman yang cerah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">-         </span><!--[endif]--><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Cengkir gading</span></em><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"> (kelapa muda warna gading/kuning), menunjukkan pikiran yang cerah penuh kemantaban.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">-         </span><!--[endif]--><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Tebu wulung batangan</span></em><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">,  melambangkan jiwa yang disertai keteguhan pendirian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">-         </span><!--[endif]--><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Daun keluwih seikat</span></em><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">, mudah-mudahan penyelenggaraan perhelatan tidak kekukrangan suatu apa, ,bahkan diharapkan serba lebih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">-         </span><!--[endif]--><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Daun ilalang</span></em><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">, semoga tidak ada hambatan atau halangan suatu apa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">-         </span><!--[endif]--><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Daun apa-apa</span></em><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">, agar terhindar dari kesukaran atau gangguan yang berupa apapun juga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">-         </span><!--[endif]--><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Padi seikat</span></em><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">, bersama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">-         </span><!--[endif]--><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Dahan dan bunga</span></em><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"> (bungkah buah kapas), semoga selalu sejahtera lahir batin, cukup sandang cukup pangan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">-         </span><!--[endif]--><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Ranting dan daun beringin</span></em><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">, semoga selalu mendapatkan perlindungan (<em>pangayoman</em>).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">-         </span><!--[endif]--><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Pengaron</span></em><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"> berisi <em>kembang setaman</em>, ditempatkan di bawah tuwuhan. Itu sebagai suatu penghormatan terhadap Dewa penjaga wisma dan Dewi Sri (<em>pengaron</em> = keramik sebangsa kuali terbuat dari tanah).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Sumber :<br />
Wartoyo Harjodiningrat,  Mbangun Tuwuh No. 19 No. 151</span></em><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.karanganyar.com/2007/07/13/tata-upacara-mantu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sunan Kalijaga Dalam Mengawinkan Budaya Jawa Dan Islam</title>
		<link>http://www.karanganyar.com/2007/07/09/sunan-kalijaga-dalam-mengawinkan-budaya-jawa-dan-islam/</link>
		<comments>http://www.karanganyar.com/2007/07/09/sunan-kalijaga-dalam-mengawinkan-budaya-jawa-dan-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Jul 2007 07:06:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>marshanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya Jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.karanganyar.com/2007/07/09/sunan-kalijaga-dalam-mengawinkan-budaya-jawa-dan-islam/</guid>
		<description><![CDATA[Penciptaan Tembang Salah satu kreatifitas Sunan Kalijaga dalam syiar Islam adalah dedngan menciptakan tembang-tembang. Salah satu tembang yang sangat terkenal hingga sekarang adalah Ilir-ilir. Tafsir tentang ilir-ilir lebih dari satu, tergantung sudut pandang masing-masing. Ilir-ilir terdiri dari dua bagian, yang pertama bagian penyadaran, sedangkan yang kedua adalah bagian peringatan. Bagian pertama berbunyi : Ilir-ilir Tandure [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><strong>Penciptaan Tembang</strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Salah satu kreatifitas <strong>Sunan Kalijaga</strong> dalam syiar Islam adalah dedngan menciptakan tembang-tembang. Salah satu tembang yang sangat terkenal hingga sekarang adalah <strong>Ilir-ilir</strong>. Tafsir tentang ilir-ilir lebih dari satu, tergantung sudut pandang masing-masing. Ilir-ilir terdiri dari dua bagian,  yang pertama bagian penyadaran, sedangkan yang kedua adalah bagian peringatan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Bagian pertama berbunyi :</span></p>
<div align="center"><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Ilir-ilir</span></em><br />
<em><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"> Tandure </span></em><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">wis</span></em><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"> sumilir</span></em><br />
<em><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"> Tak ijo royo-royo</span></em><br />
<em><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"> Tak senggoh penganten anyar</span></em></div>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><span id="more-18"></span>Bagian pertama ini menyadarkan bahwa setiap orang harus mampu menanam. Apa yang harus ditanam? Kesadaran berketuhanan Yang Maha Esa. Setelah ditanam lalu dipelihara dengan cermat dari waktu ke waktu. Kalau kesadaran ketuhanan Yang Maha Esa sudah tumbuh subur bagaikan tanaman yang <em>ijo royo-royo</em>, maka seseorang dianggap telah siap memasuki jenjang perkawinan. Ketika itulah is siap menjadi penganten anyar (penganten baru) yang siap pula memasuki dunia kehidupan nyata yang penuh dengan tantangan dan rintangan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Bagian kedua menggambarkan bahwa manusia pada akhirnya bersiap-siap kalau sewaktu-waktu dating panggilan Tuhan. Bahasa duniawinya maut menjemput kita. Bunyi selengkapnya adalah sebagai berikut.</span></p>
<p align="center" style="text-align: center" class="MsoNormal"><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Bocah angon-bocah angon<br />
Penekna blimbing kuwi<br />
Lunyu-lunyu penekna<br />
Kanggo masuh dodot ira<br />
Dodot ira-dodot ira kumintir bedah pinggire<br />
Domana, jlumatana kanggo sebo mengko sore<br />
Mumpung jembar kalangane<br />
Mumpung gede rembulane<br />
Dho surako surak hore</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Persiapan tersebut pasti akan dialami oleh setiap orang. Dalam persiapan dipanggil Tuhan setiap orang wajib menata dirinya lahir dan batin,  siap mau penghadap Tuhannya. Dalam mempersiapkan tata lahir,  pakaian yang harus dipakai harus pakaian kebesaran, yaitu <em>dodot</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Dodot</span></em><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"> adalah kain yang dipakai oleh raja atau pembesar dibawahnya. Pucuk kainnya sengaja dibikin keluar dan <em>klangsrah</em>, menandakan kain kebesaran. Apabila ternyata <em>dodot</em>nya masih kotor harus dimintakan tolong kepada <em>bocah angon</em>, seorang penggembala, simbolik dari orang yang telah memiliki kewenangan memimpin dan menuntuni seseorang untuk menjalani hidup berketuhanan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Yang dipakai untuk membasuh <em>dodot</em> adalah <em>blimbing</em>, simbolik dari ajaran bersegi </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">lima</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">. Secara konvensional, blimbing mempunyai segi (<em>lingir</em>) </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">lima</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">. Tinggal mencari makna ajaran yang ber-<em>lingir</em> </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">lima</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"> itu apa saja. Dari sisi Islam, tentu Rukun Islam, sedangkan dari ideologi </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Indonesia</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"> adalah Pancasila. Dari tiga macam makna tersebut, rasanya yang paling dekat adalah Rukun Islam. Dengan kata lain ketika seseorang mau menghadap Tuhan dirinya harus dipersiapkan dedngan â€œpakaianâ€ yang bersih dan utuh.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Orang yang masih diberi kesempatan Tuhan untuk hidup, bagaikan masih diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk beramal shaleh yang diungkapkan dengan kata-kata <em>mumpung jembar kalangane</em> (selagi masih luas tempat kiprahnya) dan <em>mumpung gede rembulane</em> (selagi masih mengalami bulan purnama, saat-saat ketika seseorang masih berkesempatan menyerap keindahan/kesejukan ajaran ketuhanan Yang Maha Esa). </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Apalagi sudah menghayati laku hidup seperti ini yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa yang ditunjang dengan laku penghayatan <em>sedulur papat, kalimo </em></span><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">baku</span></em><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">. Maka seseorang beserta saudara-saudaranya dan kerabatnya yang telah mengerti menyambut panggilan Tuhan sebagai peristiwa yang mulia dan sukses. Semuanya bersorak sorai gembira ria karena yang meninggal telah mengetahui arah dan tujuan panggilan Tuhan. <em>Wallahu aâ€™lam bishawab</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Contoh-contoh tersebut di atas hendaknya menjadi contoh yang reprentatif tentang betapa Sunan Kalijaga melakukan modus operandi mempertemukan Islam dedngan Jawa, dengan kata lain <em>mengislamkan Jawa</em>, atau <em>menjawakan Islam</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Sumber :<br />
Dr. Budya Pradipta, Ph.D<br />
Mbangun Tuwuh Tahun 19 No. 151</span></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.karanganyar.com/2007/07/09/sunan-kalijaga-dalam-mengawinkan-budaya-jawa-dan-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Konsepsi Menuju Kesetaraan Jender Melalui Peran Dan Proses Pendidikan</title>
		<link>http://www.karanganyar.com/2007/06/09/konsepsi-menuju-kesetaraan-jender-melalui-peran-dan-proses-pendidikan-2/</link>
		<comments>http://www.karanganyar.com/2007/06/09/konsepsi-menuju-kesetaraan-jender-melalui-peran-dan-proses-pendidikan-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Jun 2007 22:36:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>marshanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya Jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.karanganyar.com/2007/06/09/konsepsi-menuju-kesetaraan-jender-melalui-peran-dan-proses-pendidikan-2/</guid>
		<description><![CDATA[(Konsepsi Mangkoenagoro I) &#8211; Bagian Kedua Disamping upaya kesamaan tanggung jawab dan penaikan martabat serta harkat wanita di mata masyarakat Jawa, disisi lain juga membuktikan bahwa kaum wanita apabila dibina secara intens ternyat amenyimpan kekuatan yang tidak kalah dengan pria. Â Â Â  3. Seniwati Peran wanita sebagai seniwati tentunya tidak diragukan lai. Bahkan mulai dari masa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">(Konsepsi Mangkoenagoro I) &#8211;  Bagian Kedua</p>
<p class="MsoNormal">Disamping upaya kesamaan tanggung jawab dan penaikan martabat serta harkat wanita di mata masyarakat Jawa, disisi lain juga membuktikan bahwa kaum wanita apabila dibina secara intens ternyat amenyimpan kekuatan yang tidak kalah dengan pria.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in"><!--[if !supportLists]--><strong>Â Â Â  3.      </strong><!--[endif]--><strong>Seniwati </strong></p>
<p class="MsoNormal">Peran wanita sebagai seniwati tentunya tidak diragukan lai. Bahkan mulai dari masa adon yudo selama 16 tahun melawan kumpeni Belanda, wanita mampu sebagai seniman sesindhenan dan penari tayub. Senandung tembang yang merdu, tarian lemah gemulai dan bergairah memberikan nuansa bagi para prajurit untuk bersemangat memenangkan pertempuran.</p>
<p class="MsoNormal">Dalam masa kepemimpinan <strong>Mangkoenagoro I</strong> (MN I) telah diciptakan karya besar yang menjadi <em>master piece</em> <strong>Praja Mangkunagaran,</strong> yaitu tarian <strong>Badhaya Anglirmendhung</strong> yang merupakan monument lintasan perjuangan yang gagah berani. Tarian ini justru dipercayakan penuh kepada kaum wanita, baik penarinya yang berjumlah 7 orang, <em>niyaga</em> maupun <em>sesindhennya</em>. Sedang karya besar yang lain yaitu <strong>Badhaya Diradameta</strong> dan <strong>Badhaya Sukapratama</strong> diciptakan untuk seniman pria. Apabila Badhaya Anglirmendhung terinspirasi dari perang besaar di Ponorogo, Diradameta dan Sukapratama masing-masing mencerminkan perang Sitokepyak Rembang dan keberhasilan menyerang benteng Belanda di Yogyakarta.<span id="more-16"></span></p>
<p class="MsoNormal">Berbagai kesempatan dari peran lain juga diberikan kepada wanita Mngkunagaran. Mulai dari tugas sebagai intelijen di bawah koordinasi <em>Joyopanamur</em> (Punggawa Baku MN I), tugas penghubung membantu <em>Joyoleyangan</em>, serta sebagai pengawal dari istri dan keluarga <strong>Pangeran Sambernyawa</strong> dalam medan perang. Wanita juga memiliki peranan strategis sebagai motivator dalam peang. Kisah <strong>Mas Ajeng Wiyah</strong> yang mampu mengobarkan semangat barisan Sambernyawa menuju kemenangan dalam pertempuran di hutan Sitokepyak Rembang, adalah salah satu bukti yang nyata. Pangeran Sambernyawa berhasil menewaskan Kapten Van der Pol Komandan Detasemen Kumpeni.</p>
<p class="MsoNormal">Dimasa Praja Mangkunagaran telah berdiri, disamping tugas di bidang logistic juga berperan membuat pakaian seragam para prajurit Mangkunagaran yang ribuan jumlahnya. Profesi ini jelas memerlukan pendidikan ketrampilan yang memadai yang diberkan kepada kaum wanita, sebagai bagian dari kebijakan MN I.</p>
<p class="MsoNormal">Wanita juga mendapat peran di bidang pertanian, mulai dari saat tanam padi, matun, sampai dengan panen. Kebiasaan ini tetap terpelihara sebagai tradisi sampai sekarang.  Satu hal penting yang patut dicatat, bahwa pada saat panen raya MN I mengajak permaisuri, putra, sentana dan prajurit estri ikut turun ke sawah. Aktifitas ini untuk meyakinkan kepada rakyat, bahwa pekerjaan di bidang pertanian bukanlah profesi yang rendah (asor), sekaligus memberikan motivasi guna meningkatkan produksi pangan.</p>
<p class="MsoNormal">Wawasan kesetaraan jender atau kesederajadan antara pria dan wanita benar-benar tertanam sebagai filosofi MN I dan tidak hanya berhenti sebagai konsep atau cita-cita, tetapi benar-benar dilaksanakan dalam kehidupan pemerintahan Mangkunagaran.</p>
<p class="MsoNormal">Konsepsi MN I dalam kesederajadan yang berkaitan dengan kedudukan wanita Mangkunagaran tidak secara mutlak sama dengan kaum pria, melainkan didasarkan kepada potensi dan peran mereka sebagai fitrahnya. MN I yang bernama kecil RM Said sebagai muslim sejati mengembangkan dimensi kebersamaan dalam kehidupan keagamaan. MN I memberikan hak dan kesempatan yang sama kepada wanita dan pria, kecuali perbedaan dalam berbagai hal yang memang telah digariskan oleh agama seperti halnya wanita tidak boleh menjadi imam jika diantanra makmumnya ada laki-laki. Pelaksanaan shalat di masjid, termasuk tarawih dan pelaksanaan dzikir serta pembacaan Al Qurâ€™an sama-sama dilakukan baik pria maupun wanita.</p>
<p class="MsoNormal"><span />Dari uraian di atas dapat digambarkan bahwa keberadaan wanita pada abad 18 khususnya di lingkungan Puro Mangkunagaran tidak sepenuhnya sebagaimana yang terungkap dalam sejarah kebudayaan Jawa, seperti dipingit, terbelakang, buta huruf, sebagai konco wingking, inferior, dapat diperlakukan seenaknya dan tidak mempunyai hak menentukan nasibnya. KGPAA Mangkoenagoro I telah meletakkan dasar-dasar reformasi memajukan status wanita, melalui proses pendidikan.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Perjuangan emansipasi wanita memang merupakan perjuangan yang panjang dan berkelanjutan yang disesuaikan dengan kemajuan peradaban dunia. Cita-cita <strong>RA Kartini</strong> pada abad 20 patut kita brikan apresiasi. Pemikiran, kata hati beliau sebagaimana tertuang dalam kumpulan surat yang terangkum dalam bukunya <strong>Habis Gelap Terbitlah Terang</strong> (<em>Door Duistemis tot Lieht</em>) adalah kelanjutan dari reformasi yang telah diletakkan dasarnya oleh MN I satu setengan abad sebelumnya.</p>
<p class="MsoNormal"><em>Sumber : Mbangun Tuwuh, Tahun 19 Nomor 150, KRTH Wicitro Kusumo.</em><br />
<span style="font-size: 12pt" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.karanganyar.com/2007/06/09/konsepsi-menuju-kesetaraan-jender-melalui-peran-dan-proses-pendidikan-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Konsepsi Menuju Kesetaraan Jender Melalui Peran Dan Proses Pendidikan</title>
		<link>http://www.karanganyar.com/2007/05/22/konsepsi-menuju-kesetaraan-jender-melalui-peran-dan-proses-pendidikan/</link>
		<comments>http://www.karanganyar.com/2007/05/22/konsepsi-menuju-kesetaraan-jender-melalui-peran-dan-proses-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 May 2007 18:53:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>marshanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya Jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.karanganyar.com/2007/05/22/konsepsi-menuju-kesetaraan-jender-melalui-peran-dan-proses-pendidikan/</guid>
		<description><![CDATA[(Konsepsi Mangkoenagoro I) Pada waktu dunia barat yang dianggap maju dalam pemikiaran kesetaraan jender baru dimulai pada abad 19, ternyata bangsa Indonesia telah memiliki Pangeran Sambernyawa yang tidak hanya bercita-cita tetapi telah mampu mengaplikasikan konsep kesederajadan pria dan wanita satu abad sebelumnya. Dengan melibatkan wanita dalam proses perjuangan bersenjata melawan kumpeni (1741-1756) dan setelah berdirinya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">(Konsepsi Mangkoenagoro I)</p>
<p class="MsoNormal">Pada waktu dunia barat yang dianggap maju dalam pemikiaran kesetaraan jender baru dimulai pada abad 19, ternyata bangsa Indonesia telah memiliki <strong>Pangeran Sambernyawa</strong> yang tidak hanya bercita-cita tetapi telah mampu mengaplikasikan konsep kesederajadan pria dan wanita satu abad sebelumnya. Dengan melibatkan wanita dalam proses perjuangan bersenjata melawan kumpeni (1741-1756) dan setelah berdirinya <strong>Praja Mangkunagaran</strong> (1757 M).<span id="more-14"></span></p>
<p class="MsoNormal">Di Prancis cita-cita terwujudnya kesetaraan jender baru dimulai tahun 1887 dengan berdirinya organisasi wanita pertama dengan nama <em>La Societe du droit des Femmes</em>. Pemikiran tentang emansipasi wanita di Inggris baru dimulai tahun 1872 yang kemudian secara organisatoris, terbentuk <em>Womesnâ€™s Social and Political </em>Union pada tahun 1903.</p>
<p class="MsoNormal">Peran apa saja yang diberikan oleh <strong>Mangkoenagoro I</strong> (MN I) yang menunjukkan ketajaman kerangka piker beliau dalam memandang perlunya kebersamaan pria dan wanita adalah sebagai berikut.</p>
<p style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in" class="MsoNormal"><!--[if !supportLists]--><strong>1.<span style="font-family: "Times New Roman"; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal">Â Â Â Â Â  </span></strong><!--[endif]--><strong>Carik Estri</strong></p>
<p class="MsoNormal">Memberikan peran para wanita sebagai carik estri atau yang sekarang kita kenal dengan sebutan sekretaris, menunjukkan bahwa pendidikan baca tulis mendapatkan perhatian penting semasa kepemimpinan MN I untuk mengoptimalkan wanita sebagai sumber daya insani yang pada umumnya bercirikan lebih tertib, rapid an cermat.</p>
<p class="MsoNormal">Karya monumental dari para carik wanita ini antara lain adalah <strong>Serat Babad Tutur</strong>, yang merupakan dag boek dari MN I yang tersusun secara indah dalam bait-bait tembang yang adiluhung.</p>
<p style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in" class="MsoNormal"><!--[if !supportLists]--><strong>2.<span style="font-family: "Times New Roman"; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal">Â Â Â Â Â  </span></strong><!--[endif]--><strong>Prajurit Estri</strong></p>
<p class="MsoNormal">Reformasi yang dilakukan berkaitan dengan status wanita adalah memajukan mereka lewat pendidikan. MN I memang tidak mendirikan kelembagaan pendidikan secara khusus, namun aktifitas yang dilakukan terlihat bahwa proses pendidikan dilakukan sendiri oleh MN I, termasuk pendidikan kemiliteran bagi <em>prajurit estri</em>.</p>
<p class="MsoNormal">Korps <em>prajurit estri</em> Mangkunegaran buan sekedar pengawal istana (<em>royal guard</em>), melainkan suatu <em>combat corps</em> (Pasukan tempur) yang memang dibentuk untuk mampu maju di medan perang. Bahkan <em>prajurit estri</em> Mangkunagaran disamping dididik dibidang kemiliteran, juga diberikan pengetahuan social , politik, pertanian dan kesastraan serta tetap memiliki ketrampilan kewanitaan. Jadi boleh dikatakan sebagai korps serba guna.</p>
<p class="MsoNormal">Kehebatan dari <em>prajurit est</em>ri ini antara lain dapat dilihat pada Babad Tutur, Sinom, 6:107 b/204 sebagai berikut.</p>
<p style="margin-left: 0.5in" class="MsoNormal"><em>Cingak eram kang mulat,</em></p>
<p style="margin-left: 0.5in" class="MsoNormal"><em>Kebat acukat tarampil,</em></p>
<p style="margin-left: 0.5in" class="MsoNormal"><em>Gawok katemben yang mulat,</em></p>
<p style="margin-left: 0.5in" class="MsoNormal"><em>Miwah upruk wong Kumpeni,</em></p>
<p style="margin-left: 0.5in" class="MsoNormal"><em>Gedheg-gedheg ningali,</em></p>
<p style="margin-left: 0.5in" class="MsoNormal"><em>Estri lir prajurit kakung,</em></p>
<p style="margin-left: 0.5in" class="MsoNormal"><em>Tanah Jawi tan ana,</em></p>
<p style="margin-left: 0.5in" class="MsoNormal"><em>Kang kadi Pangran Dipati,</em></p>
<p style="margin-left: 0.5in" class="MsoNormal"><em>Sasampune sadaya sampun umangkat</em>.</p>
<p class="MsoNormal">Yang artinya,</p>
<p style="margin-left: 0.5in" class="MsoNormal">Mereka yang menyaksikan ulah prajurit estri</p>
<p style="margin-left: 0.5in" class="MsoNormal">Pada bengong dan heran,</p>
<p style="margin-left: 0.5in" class="MsoNormal">Geraknya cepat, cekatan dan handal,</p>
<p style="margin-left: 0.5in" class="MsoNormal">Baru pertama kali melihatnya,</p>
<p style="margin-left: 0.5in" class="MsoNormal">Demikian pula uprup dan orang-orang Kumpeni,</p>
<p style="margin-left: 0.5in" class="MsoNormal">Sambil menggeleng-gel;engkan kepala berucap,</p>
<p style="margin-left: 0.5in" class="MsoNormal">Tanah Jawa tak ada yang menyamainya,</p>
<p style="margin-left: 0.5in" class="MsoNormal">Prajurit estri milik Pangeran Dipati in I,</p>
<p style="margin-left: 0.5in" class="MsoNormal">Walaupun prajurit lelaki masih kalah juga,</p>
<p style="margin-left: 0.5in" class="MsoNormal">Setelah semua ketangkasan diperagakan.</p>
<p class="MsoNormal">Gubernur van Greeve menuliskan dalam buku hariannya tentang kehebatan prajurit estri yang dia gelari <em>woman dragons</em>. Kehebatan prajurit ini dimana mereka secara berurutan menembakkan <em>salvo with such order and accuracy</em>, dan kemudian melepaskan lagi salvo tiga kali dengan senjata tangan mereka yang lain <em>with the ut most accuracy</em> yang diikuti dengan tembakan artileri.</p>
<p class="MsoNormal"><em>Prajurit estri</em> dibina sedemikian rupa sehingga mereka merupakan suatu kekuatan lascar tersendiri bagi rakyat Mangkunagaran yang dikagumi dan disegani baik oleh kawan maupun lawan. (Bersambungâ€¦.)</p>
<p class="MsoNormal"><em>Sumber : Mbangun Tuwuh, Tahun 19 Nomor 150, KRTH Wicitro Kusumo.</em></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt; font-family: "Times New Roman"" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.karanganyar.com/2007/05/22/konsepsi-menuju-kesetaraan-jender-melalui-peran-dan-proses-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sejarah Perdirinya Puro Mangkunegaran</title>
		<link>http://www.karanganyar.com/2007/05/19/sejarah-perdirinya-puro-mangkunegaran/</link>
		<comments>http://www.karanganyar.com/2007/05/19/sejarah-perdirinya-puro-mangkunegaran/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 May 2007 03:21:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>marshanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya Jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.karanganyar.com/2007/05/19/sejarah-perdirinya-puro-mangkunegaran/</guid>
		<description><![CDATA[Memperingati 250 tahun berdirinya Puro Mangkunegaran tentunya tidak lepas dari perjuangan RM Said/Pangeran Sambernyawa. Beliau adalah Pendiri Praja Mangkunegaran sekaligus Pahlawan Nasional Bangsa Indonesia. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai jasa pahlawannya. Pangeran Sambernyawa berjuang di jalan Allah melawan penjajah Belanda selama 16 tahun. Dasar utama perjuangan beliau adalah mengenyahkan Belanda dari bumi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font size="3" face="Times New Roman">Memperingati 250 tahun berdirinya Puro Mangkunegaran tentunya tidak lepas dari perjuangan <strong>RM Said/Pangeran Sambernyawa</strong>. Beliau adalah Pendiri <strong>Praja Mangkunegaran</strong> sekaligus Pahlawan Nasional Bangsa Indonesia. </font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman">Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai jasa pahlawannya. Pangeran Sambernyawa berjuang di jalan Allah melawan penjajah Belanda selama 16 tahun. Dasar utama perjuangan beliau adalah mengenyahkan Belanda dari bumi <strong>Mataram</strong> dan usaha menyatukan Mataran dalam satu pemerintahan.<span id="more-12"></span></font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman">Perjalanan perjuangannya yang panjang dan penuh dinamika dan romantika merupakan bukti bahwa RM Said merupakan tokoh yang kokoh terhadap prinsip, pantang menyerah, yang tidak terkalahkan dalm 250 kali pertempuran. Mendiang RM Said adalah salah satu Pahlawan Nasional yang tidak terbunuh atau tertangkap selama berjuang melawan penjajah Belanda.</font></p>
<p><strong><font size="3"><font face="Times New Roman">Kemandirian dan Sifat Kebersamaan</font></font></strong><font size="3" face="Times New Roman"> </font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman">RM Said dilahirkan di <strong>Kartasura</strong> pada hari Minggu Legi, tanggal 4 Ruwah Jimakir 1650 tahun Jawa, Windu Adi Wuku Wariagung, atau pada tanggal 8 April 1725 M. Ayahandanya adalah Kanjeng Pangeran Aryo Mangkoenagoro (Kartasura). Semasa kecil RM Said harus sudah hidup mandiri karena ibundanya meninggal pada saat melahirkan, sedang ayahandanya ditangkap dan diasingkan ke Tanah Kaap semasa RM Said berusia 2 tahun. </font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman">Akibatnya kehidupan masa kecil dilalui layaknya bukan sebagai bangsawan. Makan, minum, tidur bersama-sama anak-anak abdi dalem, bahkan tak jarang tinggal di kandang kuda. Kondisi seperti itulah yang membentuk sifat kebersamaan yang tinggi, kedekatan dengan rakyat biasa dilakukan tanpa basa-basi. </font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman">Sifat ini terus dibawa dalam perjuangan selanjutnya, bahkan dikembangkan melalui berbagai slogan untuk dipegang teguh bagi para prajuritnya. Slogan tersebut adalah <strong>Tiji Tibeh</strong> dan <strong>Manunggaling Kawulo Gusti</strong>. <em>Tiji Tibeh</em> merupakan singkatan dari <em>mukti siji mukti kabeh, mati siji mati kabeh</em> (berhasil satu berhasil semua, mati satu mati semua). Sedangkan <em>Manunggaling Kawulo Gusti</em><strong>, </strong>ini adalah konsep <em>kebersamaan antara pemimpin dan yang dipimpin</em> maupun sesama prajurit.Â </font></p>
<p><font size="3"><font face="Times New Roman">Konsep ini juga yang dikembangkan di bidang pemerintahan sewaktu beliau menjadi KGPAA MN I. Konsep ini tertuang dalam konsep <strong>Tri Darma</strong>, yakni <em>Rumongso Melu Handarbeni</em> (merasa ikut memiliki), <em>Wajib Melu Hanggondheli</em> (berkewajiban ikut mempertahankan), dan <em>Mulat Sariro Hangrosowani</em> (berani melakukan instrospeksi diri).<br />
</font></font><font size="3" face="Times New Roman"> </font></p>
<p><strong><font size="3"><font face="Times New Roman">Romantika Perjuangan<br />
</font></font></strong></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman">Pada tahun 1742, terjadi kemelut di Kartasura. Kraton Kartasura dikepung oleh prajurit Cina. Saat terjadi pengepungan, <strong>RM Said </strong>yang saat itu berusia 16 tahun, sempat keluar dari Istana Kartasura. Beliau pergi menuju Nglaroh Wonogiri bersama-sama sahabatnya, yang nantinya menjadi pasukan inti. Pasukan inti ini berkembang menjadi perwira-perwira yang setia yang dikenal sebagai <strong>Punggowo Baku Kawandoso Joyo</strong>.</font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman">Dari desa Pule Nglaroh inilah konsolidasi perjuangan dimulai. Di Nglaroh beliau bertemu dengan <strong>RA Patahati binti Kyai Khasan Nur Iman</strong> yang kemudian diambil sebagai istri.</font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman">RM Said bekerjasama dengan <strong>Sunan Kuning </strong>atau<strong> RM Garendi</strong> dalam melawan penetrasi Belanda terhadap pemerintahan Kraton Kartasura. Pemimpin pasukan Belanda Van Velsen berhasil dibunuh.</font></p>
<p><font size="3"><font face="Times New Roman">Di bidang spiritual keagamaan setelah kurang lebih 5 tahun berjuang, pada tahun 1747 M beliau berguru kepada uilama di <strong>Gunung Lawu</strong> yang bernama <em>Ajar Adisana</em> dan <em>Ajar Adirasa.<br />
</em></font></font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman">Dalam decade selanjutnya<strong>, Pangeran Mangkubumi</strong> yang juga pamannya sendiri akhirnya memutuskan untuk bergabung  dengan RM Said. Pada usia 22 tahun RM Said dijodohkan dengan putrid PAngeran Mangkubumi yang bernama <em>RA Inten</em>. Atas dasar kebersamaan perjuangan, rasa hormat terhadap Pangeran Mangkubumi dan ketegasan bahwa prinsip perjuangan RM Said bukan sekedar kekuasaan, maka dalam suatu momentum yang baik pada tanggal 1 Sura tahun jawa 1675 (1749), Pangeran Mangkubumi dinobatkan sebagai Raja oleh RM Said. Kemudian selama hampir 9 tahun berjuang bersam-sama melawan kompeni Belanda di medan laga. Hal ini diceritakan dalam <strong>Babad Lelampahan</strong>, yaitu <em>Dagboek</em>/buku harian RM Said yang berbentuk kumpulan tembang.</font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman">Keindahan berjuang bersama antara RM Said dengan Pangeran Mangkubumi terantuk pada batu ujian. Perbedaaan sudut pandang dan strategi terjadi dengan dilaksanakannya <strong>Perjanjian Giyanti</strong> pada tanggal 13 Februari 1755. Perjanjian antara RM Said dan Pangeran Mangkubumi (yang kemudian dikenal dengan PB III) intinya adalah untuk membagi kekuasaan <strong>Mataram</strong> menjadi dua, yaitu <strong>Kesultanan</strong> dan <strong>Kasunanan</strong>.  Kasultanan dipegang oleh Pangeran Mangkubumi yang bergelar HB I, sedangkan PB III menjadi Raja di Kraton Kasunanan. RM Said tetap istiqomah untuk melanjutkan perjuangan bersenjata.</font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman"><font size="3" face="Times New Roman"><strong><font size="3"><font face="Times New Roman">Tiga Perang Besar<br />
</font></font></strong></font></font><font size="3" face="Times New Roman"><font size="3" face="Times New Roman"><font size="3" face="Times New Roman">Sebelum Perjanjian Giyanti, yaitu pada tahun 1752 M telah terjadi perang besar di Ponorogo. Kendati jumlah pasukan <strong>Pangeran Sambernyawa</strong> (RM Said) lebih sedikit, tetapi dengan strategi yang jitu dan didukung sumpah setia, kebulatan tekad, ketangguhan, ketangkasan, dan keberanian para pasukannya, musuh dapat dihancurkan. Di pihak musuh 600 prajurit tewas, sedang di pihak tentara RM Said hanya 3 prajurit yang meninggal dan 29 orang luka-luka.</font></font></font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman"><font size="3" face="Times New Roman"><font size="3" face="Times New Roman">Peperangan dasyat lainnya adalah di Sito Kepyak Rembang. Dengan pedangnya, Pangeran Sambernyawa berhasil menewaskan Komandan Detasemen Kumpeni Belanda, Kapten Van Den Pol. Perang ini terjadi pada tahun 1756 pada saat RM Said berusia 30 tahun. Kepala sang Kapten dipenggal dan dengan  tangan kirinya diserahkan kepada Garwa Ampil tercinta sebagai pelunasan janji RM Said kepadanya.</font></font></font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman"><font size="3" face="Times New Roman"><font size="3" face="Times New Roman">Pangeran Sambernyawa mampu menewaskan 600 orang musuh dan korban sendiri hanya 3 orang. Hasil rampasan berupa sejumlah besarm esiu, 120 ekor kuda, 140 pedang, 160 karabin, 130 pistol dan perlengkapan militer lainnya. Semua barang rampasan dihibahkan kepada prajuritnya.</font></font></font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman"><font size="3" face="Times New Roman"><font size="3" face="Times New Roman">Taktik tempurnya dengan konsep â€œ<em>dedemitan</em>â€, â€œ<em>weweludan</em>â€, dan â€œ<em>jejemblungan</em>â€, yang pada hakekatnya semua tindakan taktis harus dijiwai dengan pertimangan kerahasiaan yang tinggi untuk mendapatkan pandadakan,kecepatan gerak dan mampu mengecoh lawan. Keputusan menyerang benteng Belanda di Yogyakarta merupakan strategi tak lazim, misterius dan tak diperhitungkan lawan, karena telah sekian lama Pangeran Sambernyawa menariklawannya di daerah hutan dan gunung. Walau diperingatkan Patih Kudanawarsa, beliau tetap tidak bergeming â€œ<strong>Sabdo Pandito Ratu Tan Keno Wola-Wali</strong>â€. Pasukannya diperintahkan bersiap sedia mati di jalan Allah.</font></font></font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman"><font size="3" face="Times New Roman"><font size="3" face="Times New Roman">Ternyata benteng Belanda berhasil diserang, 5 orang tentara Belanda tewas dan yang luka-luka cukup banyak. Menjelang tengah malam, Pangeran Sambernyawa memutuskan untuk mundur. Karena apabila diteruskan akan merugikan pihaknya sediri. </font></font></font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman"><font size="3" face="Times New Roman"><font size="3" face="Times New Roman">Walaupun pasukan RM Said tidak memperoleh kemenangan mutlak, keberaniannya menyerang benteng Belanda di tengah kota Yogyakarta menjadi bukti bahwa Pangeran Sambernyawa merupakan pemimpin dan panglima perang yang sangat ditakuti dan banyak merugikan Belanda.</font></font></font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman"><font size="3" face="Times New Roman"><strong><font size="3"><font face="Times New Roman">Peletak dasar dan Pendiri Mangkunagaran<br />
</font></font></strong></font></font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman"><font size="3" face="Times New Roman"><font size="3" face="Times New Roman">Atas dukungan rakyat yang setia akan perjuangan beliau dalam menegakkan kebenaran dan keadilan serta ajakan yang tulus dari PB III, RM Said bersama para <strong>Punggawa Baku</strong> dan bala tentaranya, memasuki nagari Surakarta pada hari Kamis 4 Jikakir 1682 Jawa atau 1756 M. Pada akhir perjuangan bersenjata beliau, jelas tercermin keteguha sikap yang jauh dari kelemahan seorang pemimpin.</font></font></font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman"><font size="3" face="Times New Roman"><font size="3" face="Times New Roman">Selanjutnya beliau mendirikan Istana di pinggir Kali Pepe. Tempat itulah yang sampai sekarang dikenal sebagai Istana Mangkunagaran. Mulai saat itu konsentrasi perjuangan beliau terfokus dibidang pembangunan pemerintahan, politik, ekoomi, budaya, spiritual keagamaan dan kesejahteraan rakyat.</font></font></font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman"><font size="3" face="Times New Roman"><font size="3" face="Times New Roman">Pangeran Sambernyawa memerintah Praja selama 40 tahun, sejak 24 Februari 1757 hingga 28 Desember 1795, dengan gelar <strong>Mangkoenagara I</strong>. Sifat kebersamaa  yang tertempa sejak kecil ternyata mewarnai <em>Sabda Dalem</em> pada awal peerintahannya sekaligus sebagai peneguhan atas rasa setia kawan dan prasetya dengan para Punggawa Baku, dengan amanat beliau sebagai berikut.</font></font></font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman"><font size="3" face="Times New Roman"><font size="3"><font face="Times New Roman">â€œ<em>Bumi Mangkunagaran ini padha melu handharbeni lan padha di pangan ing anak putu mburi, yen turuku ora mikir nganti dadi rusaking turun punggawa ora dak pangestoniâ€<br />
</em></font></font></font></font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman"><font size="3" face="Times New Roman"><font size="3"><font face="Times New Roman">Sebaliknya para Punggawa Baku juga berikrar sumpah setia kepada <em>Yang Jumeneng</em>.<br />
</font></font></font></font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman"><font size="3" face="Times New Roman"><font size="3" face="Times New Roman">Selanjutnya sebagai bentuk pengakuan kedaulatan dilaksanakan perjanjian damai di Kalicacing Salatiga pada tanggal 17 Maret 1757, yang melibatkan <strong>Sunan Hamengkoe Boewono I</strong> dan Kumpeni Belanda.</font></font></font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman"><font size="3" face="Times New Roman"><font size="3" face="Times New Roman">Mangkunagaran berdaulat pada territorial seluas 4000 karya terbetang mulai daerah Keduang, Laroh, Matesih, Wiroko, Hariboyo, HOnggobayan, Sembuyan, Gunung Kidul, Pajang sebelah utara dan selatan serta Kedu. RM Said kemudian bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Aryo Mangkoenagoro I. Dari hasil perjanjiang tersebut juga mewajibkan Kompeni membayar semacam pajak kepada Mangkunagaran sebesar 4000 real per tahun. Sebuah hasil negosiasi yang hebat.</font></font></font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman"><font size="3" face="Times New Roman"><font size="3" face="Times New Roman">Baik pada masa perjuangan bersenjata maupun sebagai Kelapa Pemerintahan Praja Mangkunagaran beliau dikenal sebagai : ahli strategi, politikus, negarawan, ekonom kerakyatan yang ulung, dan berwawasan jender. Hal ini dibuktikan dengan memberi peran di berbagai bidang kepada perempuan antara lain menjadi prajurit yang handal. Beliau seorang pemimpin yang sangat religius, muslim sejati. Beliau juga telah menulis Al-Quran 30 juz sampai delapan kali.</font></font></font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman"><font size="3" face="Times New Roman"><font size="3" face="Times New Roman">Melalui Keppres RI No. 048/TK/tahun 1988 mendiang Paneran sambernyawa dianugrahi Bintang Mahaputra Adipurna (Kelas I) dan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Kekerabatan Mangkunegaran sebagai wujud kemanunggalan dinasti Mangkunagoro dan Trah Punggawa Baku Mangkunagoro I, sekarang telah genap berusia 250 tahun.</font></font></font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman"><font size="3" face="Times New Roman"><font size="3" face="Times New Roman">Semenjak Proklamasi Kemerdekaan RI, Mangkunegaran menyatu dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sri Paduka MN VIII atas nama rakyat dan keluarga Mangkoenagoro menyatakan bahwa Mangkunagaran merupakan Daerah Istimewa dari RI sebagaimana diatur dalam Pasal 18 UUD 1945. Presiden RI Ir. Soekarno menetapkan bahwa Sri Paduka MN VIII tetap dalam kedudukanya, dengan kepercayaan bahwa Sri Paduka MN VIII akan mencurahkan segala pikiran, tenaga, jiwa, raga untuk keslamatan daerah Mangkunagaran sebagai bagian dari RI. </font></font></font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman"><font size="3" face="Times New Roman"><font size="3" face="Times New Roman">Situasi politik yang menimbulkom komdisi sangat gawat, mendorong Presiden RI mengeluarkan PP 16/SD pada tanggal 15 Juli 1946. Daerah Kasunanan dan Mangkunagaran â€œuntuk sementara waktuâ€ menjadi suatu Karisidenann dengan dipimpin oleh seoran Residen.</font></font></font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman"><font size="3" face="Times New Roman"><font size="3" face="Times New Roman">Di bawah kpemimpinan Sri Paduka Mangkoenagoro IX, Puro Mangkunagaran sekarang menjadi salah satu Pusat Budaya bangsa yang perlu terus dilestarikan. Berbagai asset budaya warisan para leluhur, baik berupa bangunan fisik, filosofis, seni dan budaya perlu kita kembangkan sebagai bagian dari asset nasional. â€œ<em>Senajan kari mung sak megaring payung, padha gondhelono</em>â€. Begitu pesan Sri Paduka Mangkoenagoro I kepada kita semua.</font></font></font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman"><font size="3" face="Times New Roman"><font size="3" face="Times New Roman">Dirgahayu 250 tahun Mangkunegaran !!!</font></font></font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman"><font size="3" face="Times New Roman">Â </font></font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman"><font size="3" face="Times New Roman">Â </font></font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.karanganyar.com/2007/05/19/sejarah-perdirinya-puro-mangkunegaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perumpamaan Dalam Busana Kejawen</title>
		<link>http://www.karanganyar.com/2007/02/09/perumpamaan-dalam-busana-kejawen/</link>
		<comments>http://www.karanganyar.com/2007/02/09/perumpamaan-dalam-busana-kejawen/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Feb 2007 02:51:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>marshanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya Jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.karanganyar.com/2007/02/09/perumpamaan-dalam-busana-kejawen/</guid>
		<description><![CDATA[Busana adat Jawa biasa disebut sebagai busana kejawen yang mempunyai perlambang atau perumpamaan terutama bagi orang Jawa yang biasa mengenakannya. Busana kejawen penuh dengan piwulang sinandhi, kaya akan ajaran tersirat yang terkait dengan filosofi Jawa. Ajaran dalam busana kejawen ini merupakan ajaran untuk melakukan segala sesuatu di dunia ini secara harmoni, yang berkaitan dengan aktivitasnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Busana adat Jawa</strong> biasa disebut sebagai busana <em>kejawen</em> yang mempunyai perlambang atau perumpamaan terutama bagi orang Jawa yang biasa mengenakannya. Busana kejawen penuh dengan piwulang sinandhi, kaya akan ajaran tersirat yang terkait dengan filosofi Jawa.</p>
<p>Ajaran dalam busana kejawen ini merupakan ajaran untuk melakukan segala sesuatu di dunia ini secara harmoni, yang berkaitan dengan aktivitasnya sehari-hari, baik dalam hubungannya dengan sesame manusia, dengan diri sendiri, maupun dengan Tuhan Yang Maha Kuasa.</p>
<p><span id="more-6"></span></p>
<p><strong>1. Iket</strong><br />
Iket adalah tali kepala yang dibentuk sedemikian rupa sehingga berbentuk penutup kepala. Cara mengenakan iket harus kenceng, kuat, supaya ikatannya tidak mudah terlepas. Bagi orang JAwa arti iket adalah hendaknya manusia mempunyai pemikiran yang kenceang, tidak mudah terombang-ambing hanya karena situasi atau orang lain tanpa pertimbangan yang matang.</p>
<p><strong>2. Udheng</strong><br />
Udheng dikenakan di kepala dengan cara mengenakannya seperti mengenakan sebuah topi. Udheng artinya <em>mudheng</em> atau mengerti dengan jelas. Artinya manusia akan mempunyai pemikiran yang kukuh bila mengerti dan memahami tujuan hidupnya. Artinya, manusia senantiasa mencari kesejatian hidup dan kehidupan atau <em>sangkan paraning dumadi</em>. Selain itu udheng juga mempunyai arti bahwa manusia seharusnya mempunyai keahlian.ketrampilan serta dapat menjalankan pekerjaannya dengan dasar pengetahuan yang mantab atau mudheng. Atau juga berarti juga hendaklah manusia mempunyai ketrampilan yang professional.</p>
<p><strong>3. Rasukan</strong><br />
Sebagai ciptaan Yang Maha Kuasa, hendaklah orang Jawa <em>ngrasuk</em> atau menganut agama dan melalu menyembah Tuhan Yang Maha Kuasa dengan iman dan taqwa. Artinya hendaklah orang Jawa takut akan Allah SWT dan bersedia untuk selalu melakukan apapun kehendak Allah SWT.</p>
<p><strong>4. Benik</strong><br />
BUsana kejawen seperti beskap selalu dilengkapi dengan <em>benik</em> (kancing baju) di sebelah kiri dan kanan. Lambang yang tersirat dalam benik itu adalah hendaklah orang Jawa dalam berbuat selalu <em>diniknik</em> (diperhitungkan dengan cermat). Apapun yang akan dilakukan hendaklah jangan sampai merugikan orang lain, dapat menjaga antara kepentingan pribadi dan kepentingan umum.</p>
<p><strong>5. Sabuk</strong><br />
Sabuk dikenakan dengan cara melingkarkannya ke badan. Lambang atau arti dari sabuk tersebut adalah manusia harus bersedia untuk berkarya guna memenuhi kebutuhan hidupnya, maka dari itu manusia harus <em>ubed</em> (bekerja dengan sungguh-sungguh) dan jangan sampai pekerjaannya itu tidak ada hasil atau buk (tidak ada keuntungan, impas). Kata sabuk berarti usahakanlah agar segala yang dilakukan tidak <em>ngebukne</em>.</p>
<p><strong>6. Epek</strong><br />
Epek bagi orang Jawa mempunyai arti bahwa untuk dapat bekerja dengan baik, harus <em>epek</em> (apek, golek, mencari) pengetahuan yang berguna. Selama menempuh ilmu upayakanlah untuk tekun, teliti dan cermat, sehingga dapat memahami dengan jelas.</p>
<p><strong>7. Timang</strong><br />
Timang mempunyai <em>pralambang</em> bahwa apabila ilmu yang ditempuh itu dipahami dengan jelas atau gamblang, tidak akan ada rasa kuatir (samang-samang, berasal dari kata timang).</p>
<p><strong>8. Jarik</strong><br />
<em>Jarik</em> atau <em>sinjang</em> merupakan kain panjang yang akan dikenakan untuk menutup tubuh sepanjang kaki. Jarik bermakna â€œaja gampang serikâ€. Artinya, jangan mudah iri terhadap orang lain, menanggapi segala masalah yang terjadi mesti berhati-hati, tidak <em>grusa-grusu</em> atau emosional.</p>
<p><strong>9. Wiru</strong><br />
Jarik atau kain yang dikenakan selalu dengan cara mewiru ujungnya sedemikian rupa. Wiru atau wiron bias terjadi dengan cara melipat-lipat ujung jarik sehingga berwujud wiru. Berarti, jarik tidak lepas dari wiru. Wiru, artinya wiwiren aja nganti kleru, olahlah segala hal yang terjadi sedemikian rupa sehingga bias menumbuhkan suasana yang menyenangkan dan harmonis.<br />
<strong>10. Bebed</strong><br />
Bebed adalah kain atau jarik yang sedang dikenakan seorang laki-laki pada bagian tubuh sepanjang kakinya. Bebed artinya manusia harus ubed, rajin bekerja, berhati-hati terhadap segala hal yang dilakukan dan tumindak nggubed ing rina wengi artinya â€œbekerjalahâ€ sepanjang hari.</p>
<p><strong>11. Canela</strong><br />
Canela mempunyai arti canthelna jroning nala, atau peganglah kuat-kuat dalam hatimu. Canela sama artinya dengan cripu, selop, atau sandal. Canela selalu dikenakan di kaki, artinya dalam menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa, hendaklah dari lahir sampai batin sujud. Dalam hati hanyalah sumeleh, pasrah akan kekuasaan-Nya Yang Maha TInggi.</p>
<p><strong>12. Curiga lan Rangka</strong><br />
Curiga atau keris berwujud wilahan, bilahan dan terdapat di dalam warangka atau wadahnya. Curiga dikenakan di bagian belakang badan. Keris ini mempunyai pralambang bahwa keris sekaligus warangka sebagimana manusia sebagai ciptaan dan penciptanya, manunggaling kawula Gusti. Karena diletakkan di bagian belakang tubuh, keris mempunyai arti bahwa dlam menyembah Tuhan Yang Maha Kuasa hendaklah manusia bias untuk ngungkurake godhaning setan yang senantiasa mengganggu manusia ketika manusia akan berbuat kebaikan.</p>
<p>(Sumber : Gapoera)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.karanganyar.com/2007/02/09/perumpamaan-dalam-busana-kejawen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istana Mangkunegaran</title>
		<link>http://www.karanganyar.com/2007/02/09/istana-mangkunegaran/</link>
		<comments>http://www.karanganyar.com/2007/02/09/istana-mangkunegaran/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Feb 2007 02:45:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>marshanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya Jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.karanganyar.com/2007/02/09/istana-mangkunegaran/</guid>
		<description><![CDATA[Puro Mangkunegaran dibangun pada tahun 1757, dua tahun setelah dilaksanakan Perundingan Giyanti yang isinya membagi pemerintahan Jawa menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Kerajaan Surakarta terpisah setelah Raden Mas Said memberontak dan atas dukungan sunan mendirikan kerajaan sendiri. Raden Mas Said memakai gelar Mangkoenagoro I dan membangun wilayah kekuasaannya di sebelah barat tepian sungai pepe [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Puro Mangkunegaran dibangun pada tahun 1757, dua tahun setelah dilaksanakan Perundingan Giyanti yang isinya membagi pemerintahan Jawa menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Kerajaan Surakarta terpisah setelah <strong>Raden Mas Said</strong> memberontak dan atas dukungan sunan mendirikan kerajaan sendiri. Raden Mas Said memakai gelar <strong>Mangkoenagoro I</strong> dan membangun wilayah kekuasaannya di sebelah barat tepian sungai pepe di pusat kota yang sekarang bernama Solo.</p>
<p>Puro Mangkunegaran yang sebetulnya awalnya lebih tepat disebut tempat kediaman pangeran daripada istana, dibangun mengikuti model kraton tapi bentuknya lebih kecil. Bangunan ini memiliki ciri arsitekturyang sama dengan kraton, yaitu pada <em>pamedan, pendopo, pringgitan, dalem, </em> dan <em>kaputran</em>, yang seluruhnya dikelilingi oleh tembok yang kokoh.</p>
<p><span id="more-5"></span></p>
<p>Begitu pintu gerbang utama dibuka tampaklah <em>pamedan</em>, yaitu lapangan pelatihan prajurit pasukan Mangkunegaran. Bekas pusat pasukan kuda, gedung kavaleri ada di sebelah timur <em>pamedan</em>. Pintu gerbang kedua menuju halaman dalam tempat berdirinya Pendopo Agung yang berukuran 3500 meter persegi. Pendopo yang dapat menampung lima sampai sepuluh ribu orang ini, selama bertahun-tahun dianggap sebagai pendopo terbesar di Indonesia. Tiang-tiang kayu berbentuk persegi yang menyangga atap joglo diambil dari pepohonan yang tumbuh di hutan Mangkunegaran di perbukitan Wonogiri. Seluruh bangunan ini didirikan tanpa menggunakan paku. Di pendopo ini terdapat empat set gamelan, satu digunakan secara rutin dan tiga lainnya digunakan pada waktu acara khusus.</p>
<p>Warna kuning dan hijau yang mendominasi pendopo adalah warna <em>pari anom</em> (padi muda) warna khas keluarga Mangkunegaran. Hiasan langit-langit pendopo yang berwarna terang melambangkan astrologi Hindu-Jawa dan dari langit-langit ini tergantung deretan lampu gantung antik.</p>
<p>Tempat di belakang pendopo terdapat sebuah beranda terbuka, yang bernama <em>pringgitan</em>, yang mempunyai tangga menuju Dalem Ageng, sebuah ruangan seluas 1000 meter persegi, yang secara tradisional merupakan ruang tidur pengantin kerajaan, sekarng berfungsi sebagai museum. Selain memamerkan <em>petanen</em> (tempat bersemayam Dewi Sri) yang berlapiskan tenunan sutera, yang menjadi pusat perhatian pengunjung, museum ini juga memamerkan perhiasan, senjata-senjata, pakaian-pakaian, medali-medali, perlengkapan wayang, uang logam, gambar raja-raja Mangkunegaran dan benda-benda seni.</p>
<p>Di bagian tengah Puro Mangkunegaran di belakang <em>Dalem Ageng</em>, terdapat tempat kediaman keluarga Mangkunegaran. Tempat ini , yang masih memiliki suasana tenang bagaikan di rumah pedesaan milik para bangsawan, sekarang digunakan oleh para keluarga keturunan raja. Menghadap ke taman terbuka adalah <em>Beranda Dalem</em>, yang bersudut delapan , dimana terdapat lilin dan perabotan Eropa yang indah.</p>
<p>Sisa peninggalan yang masih tampak jelas saat ini adalah perpustakaan yang didirikan pad atahun 1867 oleh <strong>Mangkoenagoro IV</strong>.</p>
<p>SILSILAH :<br />
SP. Mangkoenagoro I (24 Feb 1757 â€“ 28 Des 1795)<br />
SP. Mangkoenagoro II (28 Des â€“ 1795 â€“ 26 Jan 1835)<br />
SP. Mangkoenagoro III (26 Jan 1835 â€“ 6 Jan 1853)<br />
SP. Mangkoenagoro IV ( 25 Mar 1853 â€“ 2 Sep 1881)<br />
SP. Mangkoenagoro V (2 Sep1881 â€“ 2 Okt 1896)<br />
SP. Mangkoenagoro VI (2 Okt 1896 â€“ 11 Jan 1916)<br />
SP. Mangkoenagoro VII (11 Jan 1916 â€“ 19 Jul 1944)<br />
SP. Mangkoenagoro VIII (19 Jul 1944 â€“ 3 Sep 1987)<br />
SP. Mangkoenagoro IX (3 Sep 1987 â€“ sekarang)<br />
<em>Sumber : Gapoera Edisi VIII/2006)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.karanganyar.com/2007/02/09/istana-mangkunegaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
